
UPMKNews - - A. Landasan Teori Individu, Masyarakat,dan Interaksi Sosial
Individu adalah kesatuan terbatas yang memiliki keunikan dan memiliki nilai ketuhanan serta kemanusiaan sehingga tercipta keseimbangan. Individu akan menciptakan hubungan yang harmonis dengan cara berfikir positif. Beberapa individu atau sekelompok individu dapat disebut sebagai masyarakat.
Masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki norma, adat dan hukum yang diterapkan maupun dipatuhi. Dari adanya individu dan masyarakat ini akan menghasilkan interaksi sosial. Masyarakat seharusnya melaksanakan norma, adat dan hukum agar tercipta keharmonisan dan dampak yang positif.
Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik, karena manusia merupakan makhluk sosial tentunya akan melakukan interaksi. Teori interaksi sosial terdiri dari individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Dari teori interaksi sosial ini dapat menimbulkan dampak positif dan negatif.
Dampak dari interaksi yang positif dan negatif akan timbul sesuai norma, adat dan hukum yang ada dalam masyarakat tersebut, apakah dipatuhi atau tidak. Apabila norma, adat dan hukum dilaksanakan dengan baik maka akan timbul dampak positif dan tercipta pranata sosial. Sedangkan, apabila norma, adat dan hukum tidak dilaksanakan akan timbul dampak yang negatif.
Struktur sosial terdiri dari 3 golongan, yaitu golongan atas, menengah dan bawah. Alat ukur struktur sosial yaitu keturunan, jabatan, pendidikan dan takdir. Contohnya keturunan pejabat dengan keturunan anak seorang petani akan mempengaruhi penilaian orang lain. Dari pembedaan golongan tersebut akan menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan sosial yaitu suatu ketidakseimbangan sosial yang ada dimasyarakat, sehingga menjadikan suatu perbedaan yang mencolok dalam struktur sosial dimasyarakat.
B. Kasus Ketidakharmonisan Dalam Keluarga
Ketidakharmonisan keluarga yang tak kunjung usai, tak jarang pula berujung pada perceraian. Namun, bagi beberapa orang ada yang memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Walaupun tidak sampai bercerai, kondisi keluarga yang tidak harmonis tentu akan berpengaruh terhadap kelangsungan keluarga tersebut, apalagi anak-anak, yang masih dalam masa peralihan kedewasaan. Dalam masa ini atau yang biasa disebut masa remaja, anak sangat membutuhkan peranan orang tua yang mereka harapkan.
Ketidakmatangan hubungan dalam keluarga ini, seperti adanya pertengkaran antar anggota keluarga, terus-menerus mengkritik, dan menjatuhkan anggota lainnya, pada tahun awal masa remaja hal ini kerap terjadi. Sehingga membuat anak merasa malu ataupun takut untuk memberi tahu orang lain tentang keadaan keluarganya. Inilah yang membuat anak lebih pendiam dan cenderung antisosial. Ia lebih ingin menyendiri dan tidak mau bergaul dengan siapa pun.
Anak yang mengalami stress, perkembangan dan pertumbuhan dirinya tidak akan sempurna. Anak akan kehilangan semangatnya untuk beraktivitas, sehingga anak malas dan kerap bertingkah semaunya. Ia pun akan merasa bahwa pendidikan bukanlah hal yang penting. Kenakalan remaja adalah perwujudan dari konflik dan depresi yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa-masa ini. Mereka gagal dalam mengembangkan emosi, jiwa, dan tidak bisa menahan diri terhadap hal yang baru, sehingga menimbulkan sikap yang tidak seharusnya dilakukan. Narkoba, free sex, tawuran, pergaulan bebas, dan perilaku buruk lainnya adalah hal yang tidak akan asing lagi bagi mereka.
Dalam kasus ini, meski banyak contoh anak yang tetap kuat dan bertahan dengan menghadapi keadaan keluarganya yang sungguh berantakan, namun tak sedikit pula anak yang lemah dan mudah menyerah sehingga menjadi korban keluarganya sendiri. Perdebatan dan pertengkaran memang sukar dihindari. Meski begitu, hal yang terpenting dalam kasus ini adalah bagaimana cara kita menemukan jalan keluar masalahnya dan menyelesaikannya. Bertengkar dengan kepala panas, tentu hasilnya tidak akan lebih baik. Jika memang anak-anak sudah dirasa cukup berumur untuk memahami masalah kedua orang tuanya, maka tak ada salahnya juga untuk turut mengajak mereka saat membahas masalah ini. Permasalahan yang didiskusikan dan diselesaikan secara bersama tentu akan lebih baik.
C. Pentingnya Keharmonisan Dalam Keluarga
Maka dari keharmonisan dalam rumah tangga adalah pondasi utama dalam membangun suasana yang nyaman untuk tinggal, tempat berbagi keluh-kesah, dan berbahagia bersama. Namun, bagaimana jika kita kehilangan hal tersebut? Keluarga bahagia, tentu bukanlah jawabannya. Keharmonisan dalam keluarga, bukanlah hal yang dapat terwujud oleh salah satu atau beberapa anggotanya saja, namun seluruh anggota keluarga.
Menyinggung sebelumnya, bahwa memang ada beberapa anak yang terlahir dari keluarga bermasalah, namun mampu untuk kuat tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan beberapa di antaranya dapat mencetak prestasi yang membanggakan. Untuk itu, tidak ada salahnya bukan sebagai orang tua untuk mewujudkan keharmonisan keluarga demi perkembangan psikologi anaknya?
Psikologi yang baik sangat berpengaruh pada anak, terutama saat mereka masih remaja. Pada masa ini mereka tengah disibukkan untuk mencari jati dirinya. Dengan psikologi yang baik, tentu akan menuntun mereka dalam mencari jati diri yang lebih diharapkan. Peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik, kita harus terus menjaga keharmonisan keluarga kita untuk kehidupan anak yang lebih baik, senantiasa rukun dan lebih banyak menghabiskan waktu yang berkualitas dengan keluarga adalah langkah awal yang harus kita tempuh untuk mewujudkan keluarga yang harmonis.
Dan dengan ada interaksi yang terjalin antar anggota dapat menciptakan keharmonisan tersebut. Sehingga tidak tercipta jarak yang bisa menjauhkan hubungan anak pada orang tua begitu pula sebaliknya. Agar keluarga yang rukun,bahagia, dan harmonis dapat di capai.
D. Solusi Untuk Keharmonisan Dalam Keluarga
Solusi yang dapat diberikan adalah dengan menciptakan interaksi antar anggota keluarga seperti pada malam hari setelah orangtua bekerja dan pada hari libur. Konflik yang dialami remaja dengan orang tua umumnya seputar masalah kegiatan sekolah, kebiasaan belajar, hubungan dengan teman sekolah, serta hubungan dengan saudara kandung.
Mengadakan waktu bersama keluarga seperti dengan mengajak rekreasi bersama, bersilaturahmi dengan keluarga besar, dan mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan masalah dengan anggota keluarga. Serta tak lupa juga untuk menanamkan nilai-nilai etika dan iman Supaya keluarga menjadi lebih harmonis, penting untuk menanamkan nilai-nilai etika dan iman. Hal ini bisa membuat anggota keluarga tidak berperilaku seenaknya. Selain itu, nilai kemanusiaan juga harus senantiasa diterapkan di dalam anggota keluarga. Dalam menciptakan keluarga yang harmonis juga, tentu harus ada rasa saling menyayangi di antara anggota keluarga. Rasa sayang tersebut dapat ditunjukkan melalui perhatian, kepedulian, maupun dukungan. ketika anak merasa dicintai dan disayangi, hal itu akan membuatnya merasa aman.
E. Manfaat Keharmonisan Dalam Keluarga
Memiliki hubungan keluarga harmonis dapat membuat anak merasa aman dan dicintai. Tak hanya itu, keharmonisan dalam keluarga juga mampu membuat kehidupan Anda dan pasangan terasa lebih baik.Kehangatan dan kasih sayang satu sama lain menjadi salah satu ciri dari keluarga harmonis. Beberapa manfaat memiliki keluarga yang harmonis, yaitu : Keluarga harmonis memiliki hubungan yang kuat antar anggotanya sehingga sulit terpecah-belah. Model keluarga ini tumbuh dengan komunikasi, koneksi, cinta, aturan, rutinitas, dan keamanan yang baik. Berbeda dengan keluarga tidak harmonis yang kerap dirundung oleh masalah antar anggota keluarga.
Penulis : Igra Tanjil Magistra, Prima Dewi Anjasmara,Sri Rahayu, Aprilia Kusumastuti,Novita Febriyani,dan Dita Nurjanah