
Kuningan, UPMKNews -- Sampah masih menjadi masalah sosial di lingkungan tempat tinggal karena masyarakat sering membuang sampah sembarangan. Hal tersebut membuat lingkungan menjadi kotor dan menyebabkan bau tidak sedap. Tentu hal ini akan mengganggu kenyamanan dan ketentraman masyarakat.
Permasalahan pengelolaan sampah yang ada di indonesia dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu tingginya jumlah sampah yang dihasilkan, tingkat pengelolaan pelayanan masih rendah, TPA yang terbatas jumlahnya, institusi pengelolaan sampah dan masalah biaya.
Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah maupun laut. Sifat sampah plastik tidak mudah terurai, proses pengelolaannya menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik, butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai seacara alami.
Untuk mengetahui pengelolaan sampah di masyarakat mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan yang terdiri dari Euis Windri, Milki Sihabul Milah, Muhammad Fajar Abdullah, Ridwan Suwandi, Siti Nur Athifah, Ucu Permatasari, Yani Suryani Cahyaningrum dengan dosen Pengampu Rita Kusumah, M.Pd. Melakukan kunjungan untuk mengetahui pengelolaan sampah “Penggilingan Plastik” di Desa Pagarsari, Kec. Pagerageung, Kab. Tasikmalaya pada Senin, 27 Maret 2023 lalu.
Dalam kegiatan observasi ini mahasiswa bertemu dengan Bapak H. Itang selaku pemilik bank sampah Desa Pagarsari. Beliau menyampaikan bahwa bank sampah ini sudah beroprasi selama 13 tahun lebih 2 bulan dengan jumlah pekerja 6-10 orang yang berasal dari wilayah sekitar usaha.
Usaha ini telah memiliki badan hukum, jenis usaha yang dimiliki yaitu PD (Pengusaha Dagang) luas lahan yang digunakan untuk mengelola sampah yaitu 12 bata,dan luas bangunan 15 K. Status lahan bangunan milik pribadi Bapak H. Itang.
Bank sampah Pagarsari tidak mencantumkan kriteria khusus agar dapat diterima di bank sampah tersebut saat proses rekrutmen tenaga kerja. Dalam bank sampah tersebut tidak menerima semua jenis sampah dari warga desa, hanya perkantoran saja yang bisa menyetorkan sampah. Jenis sampah yang dapat diterima mayoritas plastik contohnya TV bekas, Paralon bekas, Computer bekas, Dispenser bekas dan sebagainya.
Alat perlindung diri yang sering digunakan saat pengelolaan sampah yaitu masker, sarung tangan, kacamata pelindung, dan sepatu pelindung. Proses yang dilakukan petugas ketika saampah masuk yaitu dikirimkan keperusahaan (pabrik) pembelian sampah lainnya disortir dan digiling. Pengiriman sampah keperusahaan (pabrik) dalam jangka waktu 1 minggu 2 kali. Setiap 1 ton sampah, persentasi barang yang dirijek (tidak layal dijual) bisa mencapai 11 - 20%. Proses yang dilakukan terhadap sampah rijek (tidak layal dijual) yaitu dilakukan pembakaran. Pegawai dilatih terlebih dahulu agar dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Standar gaji pegawai di bank sampah tersebut 1Juta per-orang dalam waktu 1 bulan dengan sistem pengganjiannya perminggu. Rincian catatan sampah keluar dalam 1 bulan terakhir.
Pada 26 Maret Jakarta dengan jenis sampah plastik 6,5 ton sampah dengan harga beli 3000 - 4000 per 1 kg dan harga jual 5000 - 6000 per 1 kg.
Pada 28 Maret Bandung dengan jenis sampah plastik 6 -7 ton sampah dengan harga beli 3000 - 4000 per 1 kg dan harga jual 5000 - 6000 per 1 kg.
Ada 2 - 3 pabrik yang rutin mengambil sampah dari bank sampah tersebut, lokasi tujuan berasal dari Jawa Barat dan Jabodetabek.
Harapan Bapak H. Itang tentang proses pengelolaan sampah dimasa yang akan datang “Supaya nantinya naik lagi untuk harga awal supaya terpasilitasi oleh dana yang lebih”. Selain itu, ada kesulitan yang selama ini dialami dalam proses perngelolaan sampah yaitu kekurangan mesin.
Bisa memanfaatkan barang bekas atau barang yang sudah menjadi sampah adalah alasan utama Bapak H. Itang memilih pekerjaan ini. Jam operasional usaha buka jam 08:00 dan tutup jam 16;00.
Warga Desa Pagarsari memberikan respon biasa saja terhadap keberadaan TPS dan Bank sampah Penggilingan plastik, harapan bapak H. Itang terhadap warga agar dapat mendukung kegiatan tersebut yaitu “Harapannya dengan memanfaatkan sampah plastik kita dapat meningkatkan ekonomi masyarakat”.
Selain itu, pernah ada pendataan oleh pemerintah desa kecamatan bahkan kabupaten terhadap aktivitas yang dilakukan. Harapan Bapak H. Itang terhadap pemerintah adalah “Harapannya bisa mempasilitasi untuk mengembangkan usaha ini supaya masyarakat lebih terlayani dengan memanfaatkan barang bekas atau sampah”.
Bapak H. Itang pernah melihat dan mendengar dari media informasi TV dan Radio tentang program bank sampah. Menurut Bapak H. Itang persaingan harga pengepul menjadi salah satu pengaruh bank sampah terhadap kegiatan yang dilakukan saat ini.
Sumber: Euis Windri, Milki Sihabul Milah, Muhammad Fajar Abdulah, Ridwan Suandi, Ucu Permatasari, dan Yani Suryani Cahyaningrum (Mahasiswa Aktif PGSD Semester 6C STKIP Muhammadiyah Kuningan).